miss me

 Hari ini ada seseorang yang sedang merindukan dirinya dulu, yang sedikit-sedikit mudah menangis. lya, ia merindukan dirinya yang cengeng, yang empati pada sekitar, yang takut jadi sebab luka orang sekitar, yang memikirkan bagaiamana kabar orang sekitar. Sebab kini, ia sudah jarang menangis. la pikir keadaannya sudah jauh membaik, ia pikir segala hantaman tempo hari sudah tak terasa lagi, ia pikir lukanya sudah benar-benar sembuh, ia pikir dirinya sudah tumbuh jadi manusia yang jauh lebih kuat. Ternyata, ia salah. la hanya menjadi makin tidak peduli pada sekitar, tidak lagi memikirkan orang-orang di sekeliling, ia menarik diri dari banyak orang di sekelilingnya dan memilih satu dua saja yang tetap dekat, ia jadi teramat apatis, ia meneriaki banyak lebam beserta lukanya yang masih menganga dengan tidak terlalu sibuk memikirkan (si)apa-(si)apa lagi.

Kesemuanya tercipta sejak segala kecewa terhadap orang-orang yang ia sayangi teramat sangat tapi justru melukai sedalam-dalamnya. la sudah memaafkan, tapi tersebab luka itu, ia sudah tidak sama seperti yang dulu lagi. Ada bagian dari dirinya yang hancur, sudah berulang ditata kembali tapi tidak bisa benar-benar utuh lagi. Seperti gelas kaca yang pecah berkeping-keping, mana bisa utuh kembali? Pun ia paham, gelas kaca yang pecah itu bisa melukai orang di lain juga, tersebab itulah ia kini memilih menjaga jarak.

Komentar